MANTEL KUNING
Untuk semua
Untuk Ibunda kita tercinta
Dalam rangka hari ibu sedunia (22 Dec)
Rinai hujan selalu membuat saya terharu. Rintiknya mengingatkan pada masa-masa yang telah lalu. Begitu pula hari ini. Dulu, sewaktu kecil, saya ingin sekali punya mantel hujan. Kuning, itu warna yang saya inginkan. Teman-teman saya yang lain telah memilikinya, dan mereka tampak anggun dengan mantel itu. Untuk anak-anak kelas 2 SD, semua yang berwarna cerah, akan selalu tampak indah. Namun sayang, ibu tak punya cukup uang untuk membelinya. Walau sempat kecewa, saya harus menurut, menahan keinginan untuk mempunyai mantel kuning itu. Walau begitu, saya tetap kesal. Dan rasa itu memuncak ketika saya harus pulang sekolah. Hari itu hujan begitu deras. Saya semakin kecewa dengan ibu. Jika ada mantel, tentu saya tak perlu kena hujan dan bisa bergabung bersama teman-teman yang lain. Kesal, dan marah, begitulah yang saya rasakan saat itu. Sementara yang lain tertawa dan menikmati hujan, saya harus berjalan dengan tubuh yang basah kuyup. Ah…..ditengah perjalanan, saya bertemu dengan ibu. Dia tampak membawakan payung untuk saya. Karena terlanjur marah, saya tak menerima payung itu, dan ngambek, untuk tetap pulang tanpa payung. Walau begitu ia tampak ingin melindungi saya dengan payungnya. Mendekap, agar saya tak terlalu basah terkena hujan. Hujan makin deras, dan kamipun berjalan pulang, walau saya tetap ngambek dan menolak untuk didampingi. Sesampainya di rumah, tingkah itu terus saya perbuat. Saya tetap menolak untuk berganti pakaian. Akhirnya dengan sedikit terpaksa, hal itu saya selesaikan. Ibu, kemudian datang dengan handuk, dan langsung menyelubungi saya dengan handuk itu. Tangannya terus membersihkan setiap air hujan yang ada di badan. Disekanya kepala saya, agar nanti tak membuat sakit. Masih dalam diam, ibu kemudian memberikan pakaian ganti, setelah itu dia masih menyodorkan teh manis hangat buat saya. Ya, segelas teh manis, sebab susu coklat, adalah hal yang jarang saya rasakan saat itu. Ya, kehangatan kembali hadir dalam tubuh. Walau saya mungkin tak mengerti apapun, saya yakin, ada kehangatan lain yang diberikan ibu saat itu. Ya, teman, begitulah, ibu mungkin tak mampu membelikan saya mantel kuning seperti yang saya impikan. Namun, payungnya telah membuat saya aman. Ibu mungkin tak mampu membelikan saya mantel kuning untuk terhindar dari hujan, namun, dekapannya membuat saya terhindar dari apapun. Ibu mungkin tak mampu membelikan saya mantel kuning itu, namun, handuk hangatnya melebihi setiap kehangatan yang mampu diberikan setiap mantel. Ibu mungkin tak mampu membelikan mantel kuning, namun, usapan lembutnya, adalah segalanya buat saya. Ibu mungkin tak menjemput saya dengan mobil atau kendaraan lain, namun, lingkaran tangannya ditubuh saya, adalah dekapan yang paling indah. Ibu mungkin tak bisa memberikan susu coklat, namun teh manisnya lebih berharga dari apapun. Ibu mungkin tak bisa memberikan saya banyak hal lain, namun, dekapan, usapan, ulur tangan, perhatian, kasih saying, sudah cukup sebagai penggantinya. Ya, rintik hujan selalu membuat saya terharu. Terima kasih buat ibu yang tak membelikan saya mantel kuning. Karena apa yang telah diberikannya selama ini, jauh melampaui semuanya.
HAPPY MOTHER’S DAY
By: imut
info lebih jauh tentang imut klick www.imutners.blogspot.com
